Rangkuman Prediksi Ekonomi Indonesia 2021, Bank Dunia Suram tapi BI Lebih Optimistis

 FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus

Liputan6.com, Jakarta - Sudah hampir 10 bulan pandemi covid-19 berlangsung, selama itu banyak dampak yang ditimbulkan mulai dari gangguan terhadap sektor kesehatan, sosial, bahkan ekonomi. Indonesia pada kuartal II perekonomiannya tumbuh minus 5,32 persen, dan kuartal III minus 3,4 persen

ndonesia pun masuk ke jurang resesi. Kendati begitu, banyak berbagai pihak yang optimistis dan memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021 akan mulai membaik, seiring berjalannya pemulihan dari berbagai sektor.

Berikut kumpulan prediksi pertumbuhan ekonomi yang dirangkum oleh Liputan6.com, Jumat (18/12/2020):

1. Bank Dunia

Bank Dunia (World Bank) kembali mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi minus 2,2 persen. Sementara untuk proyeksi 2021, World Bank memperkirakan ekonomi Indonesia positif 3,1 persen. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yakni 4,7 persen.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ralph Van Doorn menjelaskan, koreksi ini mencerminkan pemulihan yang lebih lambat dari perkirakan untuk kuartal III dan sebagian kuartal keempat akibat pembatasan sosial dan meningkatnya kasus covid-19.

“Proyeksi kami untuk 2020 sudah diestimasikan ada sedikit resesi, tapi ada perubahan pada 2021 yaitu tumbuh 4,4 persen untuk PDB riil dan 5,5 persen untuk government budget balance,” katanya dalam Indonesia Economy Prospects, Kamis (17/12/2020).

Kendati begitu, Bank Dunia mencatatkan ekonomi Indonesia 2021 akan membaik dan perlahan menguat pada 2022. Hal ini didasarkan pada pembukaan ekonomi tahun depan yang diikuti pembukaan lebih lanjut serta dilonggarkannya aturan pembatasan sosial sepanjang 2022.

Bank Dunia memperkirakan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan berada di angka 4,4 persen yang secara umum didorong oleh pemulihan konsumsi swasta. seiring dengan longgarnya pembatasan sosial.

Perkiraan tersebut juga mengasumsikan bahwa kepercayaan konsumen meningkat. Di sisi lain, hilangnya pendapatan rumah tangga tetap rendah akibat hasil pasar tenaga kerja yang lebih baik dan bantuan sosial yang memadai.

2. Prediksi Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 berada pada kisaran -1 persen hingga -2 persen. Hal ini merujuk pada perbaikan pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan terus berlangsung secara bertahap dan akan meningkat pada tahun 2021.

“Perkembangan tersebut terindikasi pada berlanjutnya kinerja positif sejumlah indikator pada November 2020,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI, Kamis (17/12/2020).

indikator tersebut antara lain seperti peningkatan mobilitas masyarakat di beberapa daerah, berlanjutnya perbaikan PMI Manufaktur, dan menguatnya keyakinan serta ekspektasi konsumen terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha.

“Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mulai positif pada triwulan IV 2020 dan pada kisaran -1 persen hingga -2 persen pada 2020. Serta selanjutnya meningkat pada kisaran 4,8 hingga 5,8 persen pada 2021,” kata Perry.

Selanjutnya, BI akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dalam menempuh langkah-langkah kebijakan lanjutan agar berbagai kebijakan yang ditempuh semakin efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol Covid-19 merupakan kondisi prasyarat bagi proses pemulihan ekonomi nasional,” lanjut Perry.

Prospek perekonomian domestik yang membaik tersebut juga didukung oleh berbagai langkah kebijakan yang diarahkan untuk mendorong pembukaan sektor-sektor produktif dan aman secara nasional maupun di masing-masing daerah.

Selain itu, juga akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran, berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya terkait pengembangan UMKM.

3. Prediksi LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional akan bergerak menuju perbaikan di tahun 2021. Namun perbaikan perekonomian ini bergantung pada kecepatan pemerintah dalam melakukan program vaksinasi secara nasional.

"Kami memiliki keyakinan bahwa pergerakan perekonomian nasional yang sangat tergantung pada vaksin yang ada dan ini perlu jadi perhatian pemerintah," kata Kepala Puslit Ekonomi, LIPI, Agus Eko Nugroho, dalam Media Briefing: Outlook Perekonomian 2021, Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Agus menuturkan, keberadaan vaksin dan program vaksinasi nasional akan mendorong ekspektasi sektor konsumsi. Dia pun membuat beberapa simulasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2021.

Bila tahun depan berjalan tanpa vaksin, maka PDB akan tumbuh di kisaran 1,57 persen sampai 2,07 persen. Bila vaksinasi telah dilakukan sebanyak 30 persen maka pertumbuhan ekonomi akan tumbuh di kisaran 2,99 persen sampai 3,49 persen.

Bila proses vaksinasi telah mencapai 50 persen pada 2021, maka pertumbuhan PDB diprediksi tumbuh 3,21 persen sampai 3,7 persen. Sedangkan bila proses vaksinasi telah dilakukan 80 persen, maka PDB akan tumbuh di kisaran 3,53 persen sampai 4,09 persen.

"Kalau ini bisa sampai 4 persen ini bisa jadi prestasi," kata Agus.

Tentunya kata Agus kondisi ini akan terjadi bila pergerakan manusia dan ekspektasi konsumsi bergerak signifikan. Meskipun prediksi yang dibuat LIPI menjadi yang terendah dari yang dibuat pemerintah. Maka pemerintah harus tetap memberikan berbagai stimulus kepada masyarakat walau program vaksinasi telah berjalan.

"Karena itu vaksin ekonomi atau kebijakan ekonomi yang kritikal tetap harus diperhatikan," kata dia.

 

4. Prediksi Indef

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 3 persen pada tahun 2021.

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, pandemi Covid-19 masih menghantui kelas menengah untuk melakukan konsumsi.

"Dengan segala perkembangan global maupun domestik, kita perkirakan perhitungan di 2020 ini -1,35 persen, dan tahun 2021 itu 3 persen," ujar Tauhid dalam Webinar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Senin (23/11/2020).

Lanjut Tauhid, laju kredit perbankan diprediksi hanya mencapai 5 hingga 6 persen dari prediksi normal 9 hingga 11 persen dikarenakan permintaan yang belum normal.

"Wajar Bank Indonesia kemarin menurunkan suku bunga menjadi 3,75 persen untuk antisipasi penurunan laju kredit, sekarang pertumbuhan di bawah 1 persen bahkan kemarin September 0,28 persen, ini harus ditingkatkan," jelasnya.

Inflasi di tahun 2021, menurut proyeksi Indef, akan menyentuh angka 2,5 persen dari yang normalnya 3 persen. Hal ini dikarenakan program pemulihan ekonomi masih belum terlaksana dengan optimal dan daya beli masyarakat masih terbatas. Untuk suplai pangan dan kebutuhan pokok, Tauhid menjelaskan, tidak ada masalah berarti.

 

 

Share:

KOMENTAR: Home Money Whats New ICAEW Proyeksi Ekonomi Indonesia Melesat 6 Persen pada 2021

 





JAKARTA, KOMPAS.com - Oxford Economics, bersama the Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) di seluruh Asia Tenggara akan terkontraksi 4,1 persen pada 2020, sebelum melonjak tajam menjadi 6,2 persen pada 2021. Kebijakan makro dinilai akan tetap berperan akomodatif, dengan dukungan fiskal yang ekstensif dan suku bunga rendah. ICAEW Regional Director, Greater China and South-East Asia, Mark Billington mengatalan, di Indonesia laju pemulihan dinilai masih belum pasti, terutama akibat tren mobilitas yang lemah, impor yang tergelincir dua digit, dan melemahnya penjualan retail. Meskipun demikian, volume penjualan retail dan produksi industri di Indonesia relatif stabil jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya yang terpukul oleh pandemi Covid-19 yang cukup keras. "Secara keseluruhan, pandemi diperkirakan akan meninggalkan bekas luka permanen pada tingkat PDB Indonesia, yang diperkirakan akan menyusut sebesar 2,2 persen tahun ini sebelum melonjak menjadi 6 persen pada tahun 2021, dengan bantuan belanja konsumen dan infrastruktur,” kata Mark melalui siaran pers, Senin (28/12/2020). Baca juga: Harga Beras Tak Bergejolak Jelang Akhir Tahun, Ini Penopangnya Menurut Kementan Di sisi lain, kecepatan pemulihan masing-masing negara di Asia Tenggara bervariasi. Dalam tingkat global, periode lockdown dan social distancing yang berkepanjangan diperkirakan akan membatasi pertumbuhan PDB global tahun ini yang menyebabkan angka PDB kembali seperti sebelum Covid-19, dan kegiatan perdagangan akan kembali aktif sebelum akhir 2021. “Di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi dibatasi oleh masih berlanjutnya penerapan social distancing. Namun, pembatasan ini diperkirakan akan secara bertahap dilonggarkan sepanjang tahun depan, terutama di negara-negara yang mampu mendistribusikan vaksin dengan cepat,” jelas dia. Mark mengatakan, di tahun depan ketidakpastian ekonomi akan berlanjut dan sebagian besar negara akan membutuhkan waktu untuk pulih dari kerugian. Namun, hadirnya vaksin Covid-19 menyeimbangkan skenario negatif yang dapat terjadi. Selain itu, prospek optimis untuk pertumbuhan regional Asia Tenggara tetap terlihat dalam jangka menengah dan panjang. ICAEW melaporkan, pemulihan ekonomi pada 2021 tetap bergantung pada pelonggaran lockdown, momentum pemulihan global, dan keberhasilan vaksin virus Corona. Perkembangan baik dalam program vaksinasi akan menjadi barometer penting untuk pertumbuhan di tahun 2021. Baca juga: BI Kembali Raih Akreditasi A dalam Pengelolaan Arsip Negara-negara yang berhasil mengendalikan pandemi seperti Vietnam dan Singapura diproyeksikan akan menjadi yang terdepan dalam proses pemulihan kawasan. Singapura diperkirakan akan memimpin dalam upaya program vaksin, sementara negara Asia Tenggara lainnya kemungkinan besar akan menghadapi tantangan logistik yang lebih besar. Vietnam diprediksi menjadi satu-satunya ekonomi yang mencatat pertumbuhan positif tahun ini, yaitu sebesar 2,3 persen. Sementara, PDB Singapura diperkirakan pulih menjadi 5,7 persen, setelah berkontraksi 6 persen pada tahun 2020. Thailand yang dinilai berhasil membendung gelombang infeksi Covid-19, juga dihadapkan pada permasalahan pembatasan perjalanan telah memukul keras ekonominya mengingat pariwisata menyumbang 20 persen dari PDB negara tersebut. Namun, perekonomian Thailand diperkirakan akan berangsur pulih dengan dukungan pengeluaran publik yang mendukung pemulihan ekonomi selama sisa tahun 2020 hingga awal 2021. Di sisi lain, Filipina yang sudah melalui lockdown ketat secara berkepanjangan, ditambah dengan respons fiskal yang sangat kecil, maka PDB Filipina diperkirakan akan turun hampir 10 persen pada tahun 2020, dan diprediksi tumbuh 7,8 persen pada tahun 2021 karena pembatasan aktivitas yang mulai dilonggarkan secara bertahap. “Perhatian terbesar bagi ekonomi Asia Tenggara, mencegah gelombang infeksi tambahan, serta secara bertahap mengembalikan kegiatan ekonomi dan masyarakat. Kesinambungan ekonomi global mengharuskan negara-negara bekerja kolektif untuk memperkuat rencana tanggap pandemi, dan mengatasi tantangan, baik dalam melanjutkan aktivitas bisnis maupun menjaga keamanan rakyatnya,” ujar Mark.

Share:

Mau Bisnis Tanaman Hias? Kenali Berbagai Jenis Tanaman Terlaku Ini



 Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi membatasi kegiatan kita hanya dari rumah, dan beberapa orang mulai menemukan hobi dan minat baru untuk menghabiskan waktu secara produktif.

Salah satu di antaranya adalah berkebun dengan berbagai macam metode dan jenis tumbuhan.

Bahkan, hobi baru yang satu ini, bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Di luar pandemi, budidaya tanaman hias merupakan usaha pertanian yang populer di banyak belahan dunia karena biaya perawatan dan bibit yang relatif lebih murah, meskipun di luar sana ada banyak tanaman hias yang harganya bahkan mencapai jutaan rupiah per pot.

Share:

Omzet Petani Tanaman Hias Kabupaten Bogor Capai Rp300 Juta Selama Covid-19, Ekspor ke Mancanegara

 

WARTAKOTALIVE.COM, TAMANSARI - Pandemi Covid-19 berdampak pada semua sektor, termasuk ekonomi dan perdagangan.

Namun ternyata wabah ini tidak terlaku mempengaruhi bisnis tanaman hias di Kabupaten Bogor.


Penjualan tanaman hias di wilayah ini justru mengalami peningkatan selama Covid-19.

Bupati Bogor Ade Yasin mengunjungi petani tanaman hias di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, pada Kamis (22/10/2020). 
Bupati Bogor Ade Yasin mengunjungi petani tanaman hias di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, pada Kamis (22/10/2020).  (Wartakotalive.com/Hironimus Rama)

Omzet petani tanaman hias bisa mencapai Rp 200-300 juta sehari secara keseluruhan.

"Di masa pandemi sekarang ini, lagi trend mengurus tanaman, karena banyak orang yang mengalami keterbatasan untuk keluar rumah,” kata Bupati Bogor Ade Yasin saat berdialog dengan petani tanaman hias di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, pada Kamis (22/10/2020). 

Dia melanjutkan tanaman hias bukan lagi hanya sekadar hobby tetapi sudah menghasilkan uang untuk keluarga dan wilayah.

Bupati Bogor Ade Yasin mengunjungi petani tanaman hias di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, pada Kamis (22/10/2020). 
Bupati Bogor Ade Yasin mengunjungi petani tanaman hias di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, pada Kamis (22/10/2020).  (Wartakotalive.com/Hironimus Rama)

Karena itu, Ade Yasin ingin mengetahui bagaimana kondisi penjualan tanaman hias di tengah pandemi Covid-19 dan apa saja yang menjadi kendala para petani.

"Mari kita urai bersama jika ada masalah atau ada kendala yang menghambat produktifitas para penggiat tanaman hias,” beber Ade Yasin.

Ketua Paguyuban Petani Tanaman Hias Sukamantri Imannudin menyampaikan beberapa kendala dalam budidaya tanaman hias




https://wartakota.tribunnews.com/2020/10/23/omzet-petani-tanaman-hias-kabupaten-bogor-capai-rp300-juta-selama-covid-19-ekspor-ke-mancanegara

Share:

3 Jenis Produk Terlaris Saat Pandemi Bisa Jadi Inspirasi Bisnis UMKM

 



Liputan6.com, Jakarta -  Di masa pandemi corona COVID-19 yang terus berkembang, sektor ekonomi di Indonesia terkena dampak yang signifikan terutama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Konsumen pun diharuskan untuk keluar dari zona nyaman mereka demi mempertahankan hidup.

Salah satu caranya adalah dengan berbelanja daring karena harus lebih banyak berada di rumah. Selama pandemi, ada sejumlah produk yang sangat diminati. CEO & Founder Pomona and Zeeus, Benz Budiman, mengungkapkan, ada tiga kategori produk yang diminati oleh masyarakat dan banyak dibeli saat pandemi dan memasuki era new normal.

"Pertama adalah kategori farmasi, produk-produk farmasi ini banyak dibeli oleh masyarakat saat PSBB maupun karantina mandiri dan ternyata masih berlanjut sampai era new normal ini. Banyak masyarakat yang membeli produk kesehatan seperti masker, hand sanitizer, vitamin, dan produk farmasi lainnya," ungkapnya saat diskusi virtual, dengan tema Pemulihan Ekonomi di Masa New Normal, Rabu, 8 Juli 2020.

Benz menambahkan, kategori produk farmasi sebelum terjadi pandemi Covid-19 hanya 16 persen masyarakat yang membelinya. Namun sejak pandemi, penjualan beragam produk kesehatan naik drastis sekitar 48 persen.

Produk kedua yang banyak diminati di masa pandemi adalah produk bahan-bahan masakan. Produk ini akan tetap banyak dicari oleh masyarakat karena masih banyak yang memilih untuk berkegiatan memasak saat dirumah untuk mengisi waktu luang. Selain itu memasak sendiri di rumah dianggap lebih aman dan bersih dibanding makan di luar rumah.

Sedangkan, produk yang ketiga adalah produk perawatan rumah. Menurut Benz, sebelum ada pandemi hanya ada 17 persen masyarakat yang membeli produk ini, tapi kini naik drastis sebesar 33 persen.

"Menurut kami, tiga produk ini akan masih tetap bergeliat dan banyak dibeli oleh masyarakat di masa new normal. Ini juga bisa menjadi inspirasi dan kesempatan bagi pelaku UMKM. Kalau mau menaikkan transaksi usahanya, bisa memasukan tiga produk itu," terangnya.


https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4300228/3-jenis-produk-terlaris-saat-pandemi-bisa-jadi-inspirasi-bisnis-umkm


Share:

Recent Posts